Subsidi BBM Rp16.100 per Liter Dinilai Hambat Transisi Energi, MPR Desak Penataan

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai subsidi BBM menghambat transisi energi bersih.
Penulis: Saiful
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21:02 WIB

NUSAPERDANA.COM — Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai subsidi bahan bakar minyak menjadi penghambat utama transisi energi bersih di Indonesia karena membuat harga energi fosil tampak jauh lebih murah dari biaya produksinya. Penataan ulang subsidi melalui penyesuaian besaran dan pengetatan sasaran dinilai mendesak agar anggaran negara bisa dialihkan untuk mendanai infrastruktur energi terbarukan. Indonesia membutuhkan investasi hingga 180 miliar dolar AS sampai 2034 untuk mengejar target bauran energi bersih.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mendesak pemerintah menata ulang kebijakan subsidi energi. Dorongan itu disampaikan dalam sebuah forum di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antara. Menurut Eddy, subsidi yang berlaku saat ini membuat harga energi fosil terlihat jauh lebih murah dibanding biaya produksi sebenarnya.

Kondisi tersebut dinilai melemahkan insentif bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk beralih ke sumber energi alternatif yang lebih bersih. Selama bahan bakar minyak tetap dijual murah, dorongan pindah ke kendaraan listrik, energi terbarukan, atau teknologi rendah emisi bakal tetap loyo.

Jurang Harga Pertalite vs Biaya Produksi

Eddy mencontohkan BBM jenis Pertalite. Masyarakat saat ini membelinya di kisaran Rp10.000 per liter, padahal biaya produksi aslinya tembus sekitar Rp16.100 per liter. Selisih harga jual dan biaya produksi itulah yang ditanggung negara lewat kantong subsidi.

Artinya, harga yang dibayar konsumen sama sekali tidak mencerminkan angka total penyediaan. Pemerintah rela menutup celah tersebut demi menjaga harga energi tetap terjangkau di kantong publik.

"

Reporter: Saiful