Pencarian

Data Inflasi PCE AS dan PMI China Warnai Kalender Ekonomi Pekan Ini

Senin, 28 September 2026 • 07:01:31 WIB
Data Inflasi PCE AS dan PMI China Warnai Kalender Ekonomi Pekan Ini
Data inflasi PCE AS menjadi sorotan pasar global pekan ini.

NUSAPERDANA.COM — Indeks Price Consumer Expenditure (PCE) Agustus menjadi sorotan utama pasar global pekan ini, dirilis 30 September sebagai indikator inflasi acuan Federal Reserve. Sejumlah agenda ekonomi lain menyusul, mulai dari keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia hingga data manufaktur China dan survei Tankan Jepang.

Bloomberg Technoz mencatat kalender ekonomi pekan ini dipenuhi rangkaian rilis data dari tiga kawasan utama: Amerika Serikat, Asia-Pasifik, dan Jepang. Pasar keuangan global akan mencermati setiap angka yang keluar, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan suku bunga bank sentral masing-masing negara.

PCE Agustus Jadi Penentu Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Indeks PCE Agustus dijadwalkan rilis 30 September dan menjadi salah satu indikator inflasi paling diperhatikan Federal Reserve. Data ini sering dijadikan acuan utama The Fed dalam menentukan langkah suku bunga berikutnya.

Sehari berselang, pasar akan mencermati ISM Manufacturing, klaim pengangguran awal, serta sejumlah indikator aktivitas ekonomi AS lainnya. Puncak rilis data AS jatuh pada 2 Oktober dengan nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran September.

Kedua data tersebut menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan pasar tenaga kerja AS, yang selama ini menopang belanja konsumen dan pertumbuhan ekonomi.

RBA Diprediksi Naikkan Suku Bunga ke 4,6%

Reserve Bank of Australia (RBA) akan mengumumkan keputusan suku bunga pada 29 September. Bloomberg Economics memperkirakan RBA menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 4,6%.

Kenaikan biaya energi disebut membuat risiko inflasi di Australia tetap tinggi, sehingga bank sentral dinilai perlu mengetatkan kebijakan moneter lebih lanjut.

PMI Manufaktur China Berpotensi Kembali ke Zona Ekspansi

China akan merilis PMI manufaktur resmi pada 30 September. Angka ini diperkirakan menunjukkan perbaikan aktivitas ekonomi, dengan sektor manufaktur berpotensi kembali masuk zona ekspansi.

Ekspor yang tetap kuat serta peningkatan belanja pemerintah diperkirakan turut mendorong sektor konstruksi. Bagi pelaku pasar Indonesia, data ini penting karena China merupakan mitra dagang utama dan tujuan ekspor komoditas.

Jepang: Produksi Industri, Penjualan Ritel, dan Survei Tankan

Jepang akan merilis data produksi industri dan penjualan ritel, serta risalah rapat bank sentral. Peningkatan belanja pemerintah diperkirakan mendorong sektor konstruksi di negara tersebut.

Survei Tankan Bank of Japan (BoJ) kemungkinan menunjukkan penguatan sentimen bisnis dan kenaikan ekspektasi inflasi. Hasil survei ini akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter BoJ ke depan.

Implikasi bagi Pasar Keuangan Indonesia

Rangkaian data dari AS, China, Australia, dan Jepang berpotensi mempengaruhi pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi, dan arus modal asing ke pasar saham domestik. Investor perlu mencermati terutama data nonfarm payrolls AS dan PMI China, dua rilis yang biasanya paling berdampak ke sentimen risiko global.

Pelaku pasar di dalam negeri umumnya akan menyesuaikan posisi menjelang akhir pekan, menunggu konfirmasi arah inflasi dan pertumbuhan ekonomi dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Follow daerah.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks