NUSAPERDANA.COM — Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendorong konsolidasi tujuh BUMN Karya yang dijalankan Danantara membuka ruang kemitraan lebih luas bagi kontraktor swasta dan pengusaha daerah. Dukungan itu disampaikan menyusul proses penyehatan yang tengah berjalan di PT Hutama Karya, Waskita Karya, Wijaya Karya, Adhi Karya, PP, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya. HIPMI menekankan keberhasilan restrukturisasi harus diukur dari dampaknya ke rantai pasok, bukan sekadar perbaikan neraca perusahaan.
Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah bersama Danantara dalam menyehatkan dan mengonsolidasikan badan usaha milik negara sektor karya. Dukungan itu disampaikan Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anthony Leong di Jakarta, Senin (5/1).
Menurut Anthony, penyehatan BUMN Karya penting untuk membangun perusahaan konstruksi negara yang lebih sehat, efisien, profesional, dan punya kemampuan keuangan kuat. Ia menilai restrukturisasi harus dilihat sebagai momentum memperbaiki ekosistem industri konstruksi nasional secara menyeluruh, bukan sekadar menggabungkan sejumlah perusahaan.
"HIPMI mendukung penyehatan BUMN Karya. Indonesia membutuhkan BUMN konstruksi yang sehat dan kuat untuk mengerjakan proyek-proyek strategis," ujarnya.
Tujuh BUMN Karya yang Ditata Danantara
Danantara saat ini menjalankan penataan terhadap tujuh BUMN Karya. Ketujuhnya adalah PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).
Proses penyehatan itu, kata Anthony, tidak boleh berhenti pada merger atau perbaikan neraca. Manfaatnya harus terasa nyata bagi kontraktor swasta, pengusaha daerah, pemasok, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta seluruh rantai industri konstruksi.
Vendor dan Subkontraktor Kecil Paling Rentan
Anthony menyoroti keberlangsungan proyek dan kepastian pembayaran kepada vendor serta subkontraktor selama proses penyehatan berjalan. Bagi perusahaan besar, keterlambatan pembayaran mungkin masih bisa dikelola. Situasinya berbeda bagi kontraktor daerah dan pemasok kecil.
Keterlambatan beberapa bulan bisa langsung mengganggu modal kerja, pembayaran gaji karyawan, bahkan kelangsungan usaha mereka. "Karena itu restrukturisasi harus sekaligus menjaga kesehatan seluruh rantai pasok," kata Anthony.
Pembagian Peran BUMN dan Swasta
HIPMI mendorong konsolidasi BUMN Karya menciptakan pembagian peran yang semakin sehat antara BUMN dan perusahaan swasta nasional. Anthony menilai BUMN bisa semakin fokus pada proyek strategis, kompleks, dan yang membutuhkan kemampuan pembiayaan maupun teknologi berskala besar.
Ruang bagi kontraktor swasta nasional dan pengusaha daerah perlu diperbesar, baik sebagai kontraktor utama pada proyek tertentu maupun lewat kemitraan dan rantai pasok. Ia mengingatkan agar BUMN yang semakin besar tidak justru mempersempit ruang pengusaha nasional.
"Jangan sampai BUMN yang semakin besar justru membuat ruang pengusaha nasional semakin kecil. BUMN yang sehat seharusnya menjadi lokomotif yang menarik lebih banyak perusahaan swasta masuk ke dalam rantai proyek, bukan berjalan sendiri," tegas Anthony.
Efek Berganda ke Industri dan Tenaga Kerja
Belanja infrastruktur, menurut Anthony, punya efek berganda besar terhadap ekonomi. Sektor yang tergerakkan meliputi industri semen, baja, alat berat, transportasi, jasa engineering, konstruksi, hingga tenaga kerja di daerah.
Semakin luas keterlibatan pengusaha nasional dan daerah, semakin besar pula manfaat ekonomi dari setiap proyek infrastruktur. Karena itu, HIPMI menilai ukuran keberhasilan penyehatan BUMN Karya tidak cukup hanya dilihat dari berkurangnya utang atau membaiknya laporan keuangan.
"Ukuran keberhasilannya harus lebih luas: apakah perusahaan menjadi sehat, apakah proyek berjalan tepat waktu, apakah vendor dibayar dengan baik, apakah keterlibatan pengusaha nasional meningkat, dan apakah semakin banyak lapangan kerja yang tercipta," kata Anthony.
Proses konsolidasi juga harus diikuti penguatan tata kelola, disiplin dalam pemilihan proyek, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri konstruksi. Menurut Anthony, BUMN Karya yang sehat akan memberi kepercayaan lebih besar kepada perbankan, investor, mitra usaha, dan pasar.
"Kalau restrukturisasi ini dilakukan dengan baik, kita bukan hanya menyelesaikan persoalan masa lalu, tetapi membangun fondasi baru industri konstruksi Indonesia yang lebih kompetitif," ujarnya.
Bagi industri konstruksi nasional, penataan tujuh BUMN Karya menjadi ujian apakah konsolidasi mampu memperkuat perusahaan negara sekaligus membuka ruang lebih besar bagi pengusaha swasta dan daerah di sepanjang rantai proyek infrastruktur.