Pencarian

Uni Eropa Umumkan Investasi Besar di Greenland, Sinyal Lawan Ambisi Aneksasi Trump

Selasa, 08 September 2026 • 06:22:31 WIB
Uni Eropa Umumkan Investasi Besar di Greenland, Sinyal Lawan Ambisi Aneksasi Trump
Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen tiba di Nuuk untuk kunjungan dua hari di Greenland.

NUSAPERDANA.COM — Kunjungan von der Leyen ke Nuuk, ibu kota Greenland, berlangsung dua hari dan dirancang sebagai unjuk dukungan politik terhadap pemerintah setempat yang menolak kampanye aneksasi Washington. Kepala badan eksekutif 27 negara anggota UE itu telah tiba sejak Minggu (6/9/2026) dan dijadwalkan meluncurkan rencana pendanaan di sektor-sektor yang selama ini belum tersentuh blok Eropa.

Bentuk Dukungan Nyata bagi Nuuk dan Kopenhagen

Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyambut hangat kedatangan von der Leyen. "Negara kami ingin membangun persahabatan yang erat dan kemitraan yang baik dengan UE," ujarnya dalam sambutan resmi.

Meski nilai pasti paket investasi belum dirinci, para pejabat UE memastikan angka yang digelontorkan akan jauh lebih besar dari pendanaan sebelumnya. Selama ini, bantuan blok Eropa ke Greenland terutama digunakan untuk membayar hak penangkapan ikan dan mendukung sistem pendidikan.

Mengapa Greenland Kini Jadi Magnet Geopolitik

Mencairnya es di Kutub Utara membuka dua peluang besar: rute pelayaran baru yang memangkas jarak antara Atlantik dan Pasifik, serta akses lebih mudah ke cadangan mineral kritis yang dibutuhkan industri teknologi dan pertahanan. Kondisi ini membuat AS, Rusia, China, dan Eropa berlomba memperkuat pengaruh di kawasan tersebut.

"Lanskap Greenland yang menakjubkan dan keindahan alamnya akan selalu saya kenang untuk waktu yang lama. Namun, begitu pula luka yang terlihat akibat perubahan iklim di lapisan es. Seiring mencairnya es, kenyataan baru mulai terbentuk," tulis von der Leyen di platform X setelah melakukan perjalanan perahu.

Ketegangan AS-Eropa yang Tak Kunjung Reda

Trump memicu krisis hubungan transatlantik tahun ini ketika menuntut AS mengendalikan Greenland dengan dalih Denmark tidak mampu mempertahankan wilayahnya. Padahal, Greenland merupakan bagian dari wilayah yang dilindungi pakta pertahanan bersama NATO, dan AS sebenarnya telah memiliki hak untuk meningkatkan kehadiran militernya di sana berdasarkan perjanjian lama.

Ketegangan sempat mereda setelah Trump dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sepakat di Davos pada Januari lalu untuk memulai pembicaraan trilateral. Namun, negosiasi itu belum membuahkan hasil. Trump justru mengulangi desakannya pada KTT NATO di Turki, Juli lalu.

Status Hukum yang Rumit

Greenland memang meninggalkan UE pada 1985, tetapi penduduknya tetap berstatus warga negara UE melalui kewarganegaraan Denmark. Kondisi ini memberi dasar hukum bagi Brussel untuk memperluas investasi tanpa perlu membuka negosiasi keanggotaan baru.

Paket investasi terbaru ini menjadi sinyal bahwa UE tidak hanya merespons retorika politik, tetapi juga membangun kehadiran ekonomi permanen di salah satu kawasan paling strategis abad ini.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow daerah.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks