Harga Minyak Tembus US$100, Wacana Pembatasan BBM Subsidi Muncul Lagi

Harga minyak mentah dunia kembali menembus level US$100 per barel.
Penulis: Sutomo
Minggu, 13 September 2026 | 06:41:32 WIB

NUSAPERDANA.COM — Harga minyak mentah dunia kembali menembus level US$100 per barel. Minyak Brent bahkan ditutup di level US$101,21 per barel pada Rabu (9/9). Dengan tingkat harga setinggi itu, pembicaraan mengenai pembatasan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dipastikan segera mengemuka di pelbagai forum, dari siniar sampai opini di koran.

Wacana ini bukan hal baru. Belum lama ini pemerintah berancang-ancang membatasi konsumsi BBM bersubsidi berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Berapa Penghematan yang Diperkirakan?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pembatasan itu bisa menghemat sekitar 10% anggaran subsidi energi. Angka ini muncul di tengah tekanan harga minyak dunia yang kembali melonjak.

Konsep dari rencana ini adalah melarang masyarakat yang berada di desil 9 dan 10 membeli BBM bersubsidi. Desil 9 dan 10 merujuk pada kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi dalam klasifikasi ekonomi nasional.

Siapa yang Akan Terdampak?

Jika rencana ini diberlakukan, kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi yang masuk desil 9 dan 10 tidak lagi bisa membeli BBM bersubsidi. Sebaliknya, masyarakat di desil 1 hingga 8 tetap menjadi sasaran penerima manfaat subsidi.

Pembatasan ini dirancang menggunakan basis data DTSEN, bukan lagi berdasarkan data lama. Artinya, status penerima akan ditentukan oleh posisi ekonomi rumah tangga dalam data tunggal tersebut.

Mengapa Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu?

Setiap kali harga minyak mentah dunia menembus US$100 per barel, beban subsidi energi di anggaran negara ikut membengkak. Pemerintah pun mencari cara menekan konsumsi agar subsidi tidak jebol.

Langkah pembatasan konsumsi menjadi salah satu opsi yang mengemuka. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada keputusan resmi mengenai kapan dan bagaimana aturan teknis pembatasan akan diterapkan.

Apa yang Perlu Dipahami Masyarakat?

Wacana pembatasan BBM bersubsidi masih dalam tahap pembahasan. Masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi, terutama di desil 1 hingga 8, tetap menjadi kelompok yang dilindungi dalam konsep rencana ini.

Bagi yang berada di desil 9 dan 10, ada kemungkinan tidak lagi bisa mengakses BBM bersubsidi jika aturan ini diberlakukan. Informasi resmi mengenai jadwal, mekanisme pembelian, dan kriteria pasti dapat diakses melalui kanal pemerintah terkait.

Masyarakat diimbau tidak mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, termasuk tawaran dari pihak tidak resmi yang mengklaim bisa mengurus status penerima subsidi. Ikuti hanya pengumuman dari instansi pemerintah yang berwenang.

Reporter: Sutomo